Sekilas Tentang Ludruk Suromenggolo


LUDRUK, seni pertunjukan khas Jawa Timur ini pernah menjadi kesenian yang sangat populer di berbagai wilayah Jawa Timur. Ludruk pernah mengalami masa kejayaannya sebelum era 2000-an. Sebaran kepopuleran seni ludruk tidak hanya di daerah asal-muasal kesenian ini yaitu di seputar Jombang - Mojokerto - Surabaya. Kesenian rakyat ini mampu menyebar ke segala penjuru Jawa Timur. Ludruk mampu menyebar ke kawasan timur sampai Banyuwangi. Di kawasan selatan sampai Malang dan Blitar ludruk pun mampu berkibar. Di wilayah barat yang dikenal sebagai kawasan eks Karesidenan Madiun, seni ludruk juga berkembang pesat dan dicintai masyarakat.

Gegap gempita kesenian ludruk di wilayah eks Karesidenan Madiun waktu itu ditandai dengan kemunculan beberapa kelompok ludruk, baik yang pentas secara nobong maupun pentas teropan. Kelompok ludruk seperti Ludruk Enggal Tresna, Ludruk Kopasgat, Ludruk Gema Nusantara, Ludruk Mawar Jaya, Ludruk Tri Jaya, Ludruk Mamik Jaya, Ludruk Duta Budaya, Ludruk Sari Murni, dan Ludruk Bangkit Budaya menjadi penanda bahwa ludruk pernah mengalami masa kejayaan di kawasan ini. Ludruk mampu menjadi daya pikat hiburan masyarakat. Kelompok-kelompok ludruk tersebut mampu mencapai masa kejayaan dengan pentas nobong maupun pentas teropan dari desa ke desa di area Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, bahkan melintas sampai wilayah Jawa Tengah perbatasan.

Semakin gencarnya aneka hiburan modern baik melalui pentas panggung maupun siaran media televisi tampaknya telah menggeser minat masyarakat untuk menonton pentas ludruk. Panggung-panggung seni pertunjukan tradisional termasuk ludruk menjadi makin sepi ditinggal penonton. Ini berimbas pada keberlangsungan kelompok-kelompok ludruk. Satu per satu kelompok ludruk tumbang, Mereka tak mampu lagi mempertahankan diri.

Dalam situasi memudarnya eksistensi ludruk, pada 30 Juni 2007 berdirilah paguyuban seni Ludruk Suromengggolo di Ponorogo. Juri Wijaya, warga Sukorejo Ponorogo berprakarsa mendirikan kelompok kesenian ini. Dua pertimbangan pendirian kelompok ludruk ini adalah masih adanya minat masyarakat untuk menonton kesenian ludruk dan masih ada banyak pekerja seni ludruk di Ponorogo, Trenggalek, Magetan, Madiun, Ngawi, dan sekitarnya. Mereka para pegiat ludruk ini butuh panggung pentas sekaligus juga butuh melanjutkan hidup. Bagaimanapun kesenian ludruk telah menjadi gantungan hidup para pekerja seni ludruk.

Di tengah memudarnya minat masyarakat terhadap ludruk, sampai kini Ludruk Suromenggolo masih dapat bertahan menyelenggarakan pentas tobongan dari desa ke desa. Dalam perjalanannya, Ludruk Suromenggolo telah mampu menghibur masyarakat melalui pentas tobongan dari satu tempat ke tempat lain di seputar wilayah eks Karesidenan Madiun. Pengelolaan manajemen kelompok seni Ludruk Suromenggolo sejak tahun 2015 dilanjutkan oleh Eka Sanjaya.

Kabupaten Ponorogo memang memiliki keunikan dalam bidang kesenian dan kebudayaan tradisional. Minat masyarakat terhadap kesenian tradisional masih tetap tinggi. Masyarakat masih tetap berduyun-duyun menonton dan menikmati gelar pertunjukan seni tradisional. Pentas reog Ponorogo yang telah terkenal di seluruh Indonesia berpusat di wilayah ini. Minat masyarakat terhadap seni pertunjukan ludruk juga masih cukup tinggi. Pentas tobongan masih dapat terselenggara sampai saat ini, meskipun jumlah penonton tidak lagi membludak seperti jaman dulu.

Ludruk Suromenggolo setia menyelenggarakan pentas tobongan. Pada saat ini Ludruk Suromenggolo menyelenggarakan pentas tobongan setiap malam bertempat di Desa Tunggur, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan. Lokasi persisnya berada di Jalan Raya Lembeyan, di samping tugu perbatasan Kabupaten Ponorogo - Kabupaten Magetan.

Pentas tobongan adalah pentas dengan cara membuat tobong atau gedung pertunjukan sementara di suatu tempat untuk beberapa bulan. Pentas nobong di suatu tempat biasanya berada pada lapangan desa atau tegalan atau sawah kering yang disewa oleh perkumpulan ludruk untuk menyelenggarakan pentas pada setiap malam. Pentas nobong di suatu tempat akan berakhir apabila minat masyarakat penonton sudah semakin berkurang atau karena tempat pertunjukan tersebut tidak dapat diperpanjang lagi sewanya.

Pentas tobongan ditinjau dari manajemen seni pertunjukan adalah pentas mandiri dan swakelola perkumpulan ludruk. Secara ekonomi, hidup mati perkumpulan ludruk dan juga kehidupan anggota ludruk bergantung dari penonton ludruk. Melalui penjualan tiket pertunjukan dan juga bonus saweran gending manasuka dari para penontonlah seni pertunjukan ludruk dan kehidupan para pekerja seni dalam perkumpulan ludruk itu dapat terus berlangsung.

Dipandang secara akademik, pertunjukan Ludruk Suromenggolo barangkali memang masih jauh dari memenuhi selera penikmat kesenian yang mengutamakan kualitas seni pertunjukan. Ada beragam hal yang berpengaruh di dalamnya. Mulai dari beragamnya latar belakang dan motivasi para anggota dalam ikut perkumpulan ludruk. Sebagai kelompok ludruk tobongan, kami harus mencari biaya hidup secara mandiri agar kami tetap tegak berdiri. Mengejar pentas setiap malam harus terus dilakukan agar dapur para anggota dan perkumpulan tetap tegak berdiri. Itulah mengapa antara latihan pentas dan pentas itu tidak ada batasnya. Setiap pentas menghibur adalah sekaligus sebagai ajang latihan. Jelas, dari kaca mata kualitas seni pertunjukan kami masih belepotan di sana-sini.

Karena itu kami terus berupaya meningkatkan kualitas pementasan, juga memperbaiki pengelolaan kelompok kesenian ludruk. Bagi kami tidak kalah penting perkumpulan ludruk ini juga menjadi paguyuban hidup, tempat bernaung untuk hidup bagi seluruh anggotanya. Karena itu, kami terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota.

Paguyuban Ludruk Suromenggolo telah mendapatkan pembaruan registrasi Nomor Induk Kesenian dengan Nomor Induk: 160/405.13/2016 pada tanggal 19 Desember 2016 dari Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.